ibu, aku ingin mengubah bintang

Dunia Yang Lebih Baik Itu Masih Mungkin!

  • November 2007
    S S R K J S M
         
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  

Masih Adakah Ruang Untuk Pahlawan

Posted by esito pada November 7, 2007

Bila hari ini kita harus kembali menundukkan kepala lantas dengan takzim mendengarkan sebuah ode, masihkah ada makna kenangan dalam hening cipta? Bukankah yang bergema dalam benak kita sekarang adalah nama-nama jalan yang menghubungkan tembok beton. Dan bukan lakon tentang orang-orang yang telah berbuat untuk sesuatu di masa lalu. Rutinitas tidak memberi tempat untuk kita berhenti sejenak; menatap plang jalan, patung dan langit Indonesia yang menjadi saksi pergantian waktu.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, ucapan Sukarno itu mampu menyelinap di balik kokohnya tembok ratapan Indonesia kontemporer. Tetapi kalimat itu tidak juga menyelinap dalam relung hati manusia Indonesia. Ia hanya menemukan sosok patung bisu yang bersaksi tentang masa kini. Ia yang ditempa hujan asam dan asap hitam meratap tak berdaya melihat bangsa yang melupakan masa lalu tetapi juga gagap menggapai masa depan.

Apakah pentingnya lagi mengenang pahlawan, bila imajinasi fiktif telah mampu menghadirkan sosok dan perbuatan itu dalam ruang privasi. Patriot kita pun tampak kuyu apabila dibandingkan dengan gambaran-gambaran palsu tabung kaca televisi. Adakah gunanya cerita tentang pengorbanan ribuan orang apabila tiap hari kita mendengar berita kematian yang menyesakkan. Masih perlukah gambaran bambu runcing di sketsa ulang sementara senapan serbu beredar luas di pasar gelap Poso dan Ambon.

Sejarah tentang para patriot kemerdekaan nyaris punah bagai seonggok bukit kecil yang terus menerus digerus erosi. Rutininitas telah membunuh kenangan. Apalah arti sebuah jejak sejarah. Ia bisa dihapus atau setidaknya dimanipulasi menjadi bentuk yang berbeda. Kejadian di masa lalu, tidak berarti banyak untuk masa sekarang. Tiap generasi meretas jalannya sendiri. Hubungan kausalitas tidak memiliki makna. Bila masa lalu bisa menentukan masa depan, lantas apa gunanya kita bekerja untuk hari ini. Kita berdiri dengan gagah, menistakan ucapan Sukarno tentang pahlawan dan sejarah. Kita pun tidak juga beranjak menjadi bangsa yang besar.

Tetapi salahkah bila ada yang mengatakan bahwa sejarah bukanlah jejak, tetapi udara, memberi hidup pada setiap masa. Para martir tanah air sebenarnya tidak pernah mati. Mereka tetap hidup, bukan dalam bentuk monumen tetapi semangat yang tidak kunjung padam. Mungkin kita selama ini salah dalam menatap masa silam. Kita mengenang orang tetapi tidak mempelajari perbuatannya. Mungkin sebagian kita mengkultuskan tokoh, tetapi tidak manauladani pengorbanannya. Itu sebabnya, jagoan maya menggusur pahlawan kere kita.

Usia kepahlawanan dalam sejarah Indonesia berumur pendek. Setiap kali perjuangannya dilanjutkan yang timbul adalah pengkhianatan. Peralihan generasi yang lazim disebut dengan penamaan angkatan, tidak lebih dari perebutan kekuasaan; dari Jepang, Belanda, Sukarno dan Suharto. Maka pahlawan tersekat dalam ruang waktu yang sempit. Ia lebih baik mati muda. Kita tidak mengenangnya dalam rentang epos yang panjang tetapi dalam sebuah insiden yang membinasakan seperti; Surabaya, Bandung Lautan Api, Medan Area, Puputan dan banyak kejadian lain di tanah air pada masa revolusi fisik.

“Sekali berarti, sesudah itu mati”, mengutip sajak Diponegoro-nya Chairil Anwar, itulah sosok pahlawan kemerdekaan kita. Mereka adalah orang-orang yang berani menantang maut. Adalah gairah kemerdekaan yang menciptakan manusia dengan kualitas seperti itu. Adalah harga diri kolektif yang membuat sosok-sosok langka itu menjadi jamak pada masa itu. Tetapi setelah kemerdekaan itu penuh direngkuh, mereka yang masih hidup tidak berhasil menantang kehidupan. Generasi ’45, dalam arus kekuasaan pasca kemerdekaan bukan tidak meninggalkan noda hitam.

Bila kita harus manauladani, maka kita dipaksa untuk meneropong rentang kejadian yang pendek. Gairah “merdeka atau mati” adalah gairah universal pembebasan diri. Di India, Gandhi menyebutnya dengan istilah karega ya marega, berbuat atau mati. Di Amerika latin, lazim kita mendengar patria o muerte, tanah air atau mati. Gairah itulah yang menciptakan martir, tauladan bagi mereka yang hidup sekaligus energi untuk sebuah bangsa. Gagasan pengorbanan diri untuk pembebasan satu bangsa memang bukan suatu hal yang bisa muncul setiap saat. Ada saat-saat kemerosotan dimana mimpi masa depan menipu. Masa depan yang lantang mengatakan bahwa masa lalu tidak lebih dari belenggu yang memasung.

Yang tersisa dari masa lalu bukan sekedar “tulang diliputi debu” tetapi karakter manusia-manusia besar. Para pemimpin kontemporer seharusnya meminjam karakter tersebut. Sebab tidak adanya karakter martir itu lah yang menjadi pangkal masalah kepemimpinan nasional pada saat ini. Para pemimpin yang lantang mengatakan bahwa mereka berdiri di atas semua golongan. Tetapi pada hakikatnya mereka bukan sekedar berdiri, tetapi menginjak-injak semua golongan untuk kepentingan pribadi, golongan dan partainya.

Hawa dingin gerimis sepuluh November masih memaksa kita untuk menengok masa lalu. Pekikan merdeka, kelewang yang menerjang, peluru bundar yang bersarang dan kembang yang gugur melingkar membentuk karangan bunga. Bisakah kita sejenak melepas kepongahan masa depan kemudian mengulurkan tangan. Rendah hati kita berucap,

“Bung, mari kupinjam semangatmu dan kuteruskan apa yang tidak sempat kau angankan”


Iklan

Satu Tanggapan to “Masih Adakah Ruang Untuk Pahlawan”

  1. electrum said

    sangat menginspirasi bung..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: