ibu, aku ingin mengubah bintang

Dunia Yang Lebih Baik Itu Masih Mungkin!

  • November 2007
    S S R K J S M
         
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  

Als Ik

Posted by esito pada November 7, 2007

…andai aku seorang Belanda, aku tidak akan merencanakan pesta-pesta kemerdekaan di antara rakyat yang jelas telah kita curi kemerdekaannya…

Pada tahun 1913, nukilan dari pamplet berjudul Als ik eens Nederlander was (Seandainya aku seorang Belanda) adalah sebuah kalimat yang berbahaya. Lebih dari sebuah protes, pamplet yang ditulis oleh Suwardi Suryaningrat itu adalah sebuah konfrontasi terbuka melawan pemerintah kolonial yang hendak merayakan 100 tahun pembebasan Belanda dari penjajahan Perancis. Karena pamplet itu, Suwardi dibuang ke Belanda.

Tentu bukan karena peristiwa itu, nama Suwardi Suryaningrat atau Ki Hadjar Dewantara lekat dalam memori kolektif kita. Kita lebih mengenal Suwardi sebagai bapak pendidikan. Sebuah gelar yang dulu ramai-ramai disandingkan dengan istilah proklamator, bapak koperasi atau bapak pembangunan. Tanggal lahirnya dilingkari dengan sebuah tanda. Setiap tahun kita mengingatnya sebagai hari pendidikan nasional. Rutinitas penanggalan yang membuat setiap peringatan hari nasional menjadi hambar.

Bukan kelahiran tentunya yang membuat Suwardi tampak istimewa di mata kita. Tetapi kesadaran dan perjuangan untuk perubahan kualitas kehidupan pribumi yang membuat tanggal lahirnya pantas untuk diperingati. Dan kesadaran itu tidak muncul dengan sendirinya, bagai seorang penyendiri mendapat ilham. Kesadaran itu adalah sebuah proses yang dimunculkan oleh pendidikan dan pengalaman.

Lima tahun setelah kepulangannya dari negeri Belanda, Suwardi tidak lagi tampak seperti anak muda garang yang suka berandai-andai menjadi seorang Belanda untuk menyampaikan ironi. Tampaknya ada sebuah kesadaran bahwa sindiran dengan mengandaikan diri sebagai penjajah tidak cukup untuk merubah keadaan. Suwardi, -mungkin- pada tahun 1922 itu lebih senang untuk sekedar mengatakan “Als ik”.  Seandainya aku. Dua kata itu memang terbaca sebagai kalimat tidak lengkap. Tetapi justru dari ketidaklengkapan itu, setiap orang  bisa menuliskan apa saja dibelakangnya. Suwardi menyadari bahwa pendidikan akan menjadi mata pena dimana tiap orang bisa melengkapi kalimat itu sesuai dengan keinginannya. Taman Siswa, sekolah untuk pribumi yang lepas dari subsidi pemerintah didirikan oleh Suwardi Suryaningrat pada tahun 1922.

Als ik. Dari sebuah pengantar sindiran, kalimat tidak lengkap itu telah berubah menjadi ruang kemungkinan. Dari dua mata pedang berlawanan, sebagai pembebas atau pembelenggu sebagaimana ditawarkan oleh Immanuel Kant, Suwardi memilih pendidikan sebagai sarana pembebasan. Kemerdekaan penuh dalam arti fisik sebagaimana dicita-citakan oleh Indische Partij, -wahana politik Suwardi, Cipto dan Douwes Dekker- harus didahului oleh kemerdekaan dalam memilih. Pendidikan akan membuat begitu banyak pilihan tidak lagi kasat mata. Sekali lagi, bukan Taman Siswa yang membuat Suwardi begitu hebat, tetapi konsistensi ide dan perjuangannya yang simultan dan relevan.

Dalam hikayat kebangsaan kita, pendidikan memang terbukti menjadi sarana pembebasan. Kesadaran nasional sebagian besar muncul dari kawah candradimuka pendidikan. Dari beragam institusi pendidikan kolonial, muncul para intelektual yang memperjuangkan kemerdekan Hindia Belanda. Tidak salah  kemudian jika pemerintah kolonial  melabeli mereka dengan istilah Ondankbaar Studenten, para pelajar yang tidak tahu terima kasih. Sistem pendidikan dengan belenggu kelas sosial justru  menghasilkan intelektual-intelektual yang justru ingin melepaskan belenggu itu  Waktu, lewat catatan sejarah, bersaksi pada kita yang hidup di jaman ini bahwa mereka berhasil. Setidaknya untuk cita-cita Indonesia merdeka.

Keadaan yang kita rasakan sekarang sungguh berkebalikan dengan realita masa lampau. Bila dulu problema-problema kemerdekaan dan kebebasan menjadi polemik kaum terdidik. Sekarang ini dalam suasana kemerdekaan dan kebebasan, problema-problema pendidikan bermunculan tanpa ujung penyelesaian. Bila dulu tembok angkuh eksklusivisme pendidikan coba dirubuhkan oleh produk pendidikan itu sendiri. Sekarang dalam suasana kebebasan, serpihan tembok itu kembali direkat untuk kemudian didekonstruksi ulang. Bila dulu ada kelas sosial sebagai pembeda sekarang ada kelas ekonomi yang membuat beberapa institusi pendidikan tampak sebagai utopia bagi orang yang tidak berpunya. Kelas pekerja terdidik mendominasi ibukota. Tetapi mereka tidak menawarkan perubahan apa-apa.

Pergeseran zaman memang sudah lewat. Kita telah terpaku pada satu lempeng bernama pasar. Lingua Franca-nya adalah penawaran dan permintaan. Ideologinya adalah uang. Tampaknya pendidikan tidak lagi diarahkan untuk menciptakan perubahan tetapi untuk sekedar menyemaikan benih kemapanan. Di negeri ini, hipotesa Nietzsche lebih satu abad silam terjawab sudah. Tugas pendidikan tinggi adalah mengubah manusia menjadi mesin. Caranya adalah dengan belajar bagaimana merasa bosan. Semua itu bisa dicapai dengan konsep tugas. Tiap tahun, ribuan sarjana baru dilahirkan untuk bingung. Sementara kualitas pendidikan disesuikan dengan selera pasar.

Als Ik, seandainya aku. Betapa cemburu kita pada Suwardi dan generasinya. Mereka yang dulu dikungkung oleh banyak hal itu bisa berandai-andai untuk sesuatu yang besar dan benar. Sekarang, sebuah lingkaran imajiner membatasi kita untuk berandai-andai. Sebab lewat beragam corongnya, penguasa yang berwujud pemilik modal menakut-nakuti kita untuk melakukan itu. Kemiskinan, pengangguran, dan keterkucilan adalah bentuk lain dari penjara masa lalu. Sementara problema pendidikan tidak kunjung terpecahkan. Nada sumbang nasib Oemar Bakrie-pun semakin jarang terdengar, sebab -sebagaimana kehendak pasar- Iwan Fals sang pendendangnya lebih sibuk beriklan untuk nada sambung pribadi.

Suwardi Suryaningrat, potret laki-laki itu adalah keseharian kita. Dalam uang kertas dua puluh ribu, ia berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Di balik potretnya pada uang kertas, samar terlihat kalimat, Als Ik, seandainya aku. Bagi kita yang sudah terbiasa menilai semua hal dari angka dan bukan rupa. Kalimat tidak lengkap itu akan dengan mudah disempurnakan. Seandainya aku punya uang lebih dari ini!

           

          

           

 

             

Iklan

Satu Tanggapan to “Als Ik”

  1. driedigue said

    Make love, not war!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: