ibu, aku ingin mengubah bintang

Dunia Yang Lebih Baik Itu Masih Mungkin!

  • Desember 2016
    S S R K J S M
    « Nov    
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  

Resensi Film : “Adel in List” (Di Bawah Lindungan Ka’ban)

Posted by esito pada November 14, 2007

Film bergenre drama ini dibuka dengan rauangan sinso mesin pemotong kayu di hutan pedalaman Sumatera Utara. Raungan itu menciutkan nyali hewan penghuni, mengkuncupkan kembang yang mekar serta mengirimkan air bah ke kampung-kampung pinggir hutan. Pertanda aneh dikirimkan zaman, matahari meneteskan hujan sementara awan mengguyur panas. Gemerlap berlian dari kayu gelondongan mengirimkan pesan ke hilir sungai; keadilan bisa diperjualbelikan.

 

Tokoh utama dalam film ini bernama Adel.  Selain itu juga ada jaksa, hakim, polisi serta orang-orang upahan penebang hutan. Pada beberapa plot juga muncul menteri Kehutanan, Kapolri dan tentu saja Jaksa Agung. Ini bukan sesuatu yang fenomenal sebab sudah sedemikian banyak drama di negeri ini yang melibatkan elit-elit bersangkutan. Mereka sangat enjoy dengan peran protagonis dan antanogis yang dimainkan. Lagipula toh drama itu menjadi bagian dari keseharian mereka.

 

Adel, pria ramah berkacamata tipis ini mewarisi usaha keluarganya dalam merambah hutan. Pekerjaan yang mulia tentunya, merambah hutan membuka peradaban dan membinasakan keliaran. Lebih mulia lagi karena pekerjaan ini jelas membuka lahan pekerjaan untuk penduduk sekitar hutan. Inilah jenis profesi yang benar-benar bersentuhan dengan alam. Mempermak hutan, membuka jalan lalu mengupah sungai untuk mengirimkannya ke hilir. Kelak kayu-kayu itu akan meyempurnakan peradaban manusia dengan produk mebel, kusen pintu atau hanya pajangan. Merambah hutan, menebang kayu adalah upaya melestarikan peradaban manusia dalam pertukangan.

 

Karena kemuliaan itu, Adel merasa bingung ketika polisi mencarinya. Panik, ia coba mencari kearifan filosofi hingga Beijing. Tetapi polisi tidak menyerah ia ditangkap di negeri Mao Ze Dong itu, diseret kembali ke Indonesia. Tetapi untunglah ada juga yang peduli dengan kemuliaan yang ia lakukan, menteri kehutanan bilang ia adalah jenis penebang yang punya izin. Adel dihadapkan pada persidangan, Hakim membebaskannya. Satu hari berselang, polisi mencari Adel lagi. Kali ini tuduhannya tidak main-main, ia diduga terlibat pencucian uang. Adel kabur, ia masuk List buron.

 

Sutradara film ini tipikal profesional yang mengerti betul psikologis penonton Indonesia. Untuk membuat jantung deg-degan, ia kasih jeda waktu pembebasan waktu Adel dengan pengumuman polisi sehingga ada ruang waktu dimana Adel bisa kabur. Untuk menyemarakkan film, ia putar slot gambar keriuhan elit di Jakarta. Masing-masing orang bersuara menanggapi pembebasan itu. Tetapi sebenarnya siapa yang peduli dengan bebasnya Adel? Sebenarnya sih tidak ada, hanya keriuhan….

 

Semua orang riuh menyuarakan serahkan semuanya pada mekanisme hukum. Adel dan pemirsa yang objektif tentu saja bingung. Mekanisme hukum yang mana, ah maksudnya sistem hukum dengan setoran uang berapa? Sekarang ini, para hakim dan jaksa tidak mau ketinggalan dari pengacara. Masing mereka juga memasang tarif untuk berat ringannya tuntutan dan putusan. Dan mereka lebih kejam dari pengacara, kurang satu rupiah saja, penjara tanggungannya.

 

Ending dari film ini, Adel menghilang lalu masuk dalam List. Penonton pun bingung. Jubah hitam hakim berkibar menutupi mata hati keadilan. Gedung-gedung pengadilan telah menjadi sumber malapetaka. Sementara orang berdebat tentang dasar hukum, gergaji terus menggunduli hutan, menyisakan secuil pepohonan tempat berteduh para penebang. Ini akan terus berulang sebab kuasa Tuhan berakhir di tangga pengadilan.

 

Adel in List dalam pelarian. Tetapi ia aman sebab berada di bawah lindungan Ka’ban.

Posted in Ota | 4 Comments »

Bung Tomo Memang Bukan Pahlawan

Posted by esito pada November 12, 2007

Sepuluh November diperingati sebagai hari Pahlawan. Surabaya sering pula disebut sebagai kota pahlawan. Tiba-tiba memori pendek manusia Indonesia meraba sesuatu yang tidak beres, Loh Bung Tomo, Kok tidak pernah dinobatkan sebagai Pahlawan? Demikianlah manusia-manusia Indonesia pilihan Tuhan ini kembali berdebat. Tidak lama lagi sang presiden dengan ayunan dua tangan yang rapih dan teratur akan berbicara pada wartawan; Kita ingin mengoreksi kesalahan masa silam, tanpa usulan dari pemerintah propinsi, kita angkat Bung Tomo sebagai pahlawan bangsa. Ketika ayunan tangan berhenti, ia menatap jauh ke depan; 2009 di depan mata!

 

Orang-orang meributkan Bung Tomo, tetapi bukan tentang nilai yang diwariskannya, hanya masalah status semata. Saya membayangkan Bung Tomo di depan mikropon meneriakkan takbir, menggelorakan semangat Arek Surabaya melawan tentara Inggris (Bukan Belanda pastinya, anak-anak bodoh!). Memori pendek kita yang tidak beres ini mungkin lebih gampang memvisualisasi semangat Bonek ketimbang semangat Arek. Musuhnya bukan Inggris tetapi Persija, PSM atau Persipura.

 

Seenak jidat bisa saya katakan arek di tahun ’45 kurang lebih sama dengan bonek. Nekad, tidak mikir, gampang diprovokasi dan tentu juga diantara mereka terdapat juga bandit dan bromocorah. Ganti saja Union Jack dengan The Jakmania, arek atau bonek tetap akan melumatnya dengan cara yang sama. Bila perlu mereka akan datangkan Viking dari Bandung untuk mengganyang The Jakmania. Green Force dan Viking melumat The Jakmania. Duancuukk!! Puluhan tahun lagi bangsa ini akan tetap berputar-putar meributkan status kepahlawanan Green Force, Viking atau The Jakmania.

 

Bila demikian adanya, maka bung Tomo sebenarnya bukan siapa-siapa. Bila ia hidup pada masa sekarang, ia tidak akan lebih dari seorang pemuda yang berdiri di pembatas stadion jadi konduktor dari orkestra suporter. Kadang ia menjulurkan tangan ke atas, samping, bawah; kadang pula ia melambaikan selendang; paling sering mungkin memimpin barisannya melemparkan botol mineral berisi air seni ke pihak lawan atau wasit. Ia bisa saja berorasi melawan petugas keamanan, ia mungkin ditangkap atau mati di tangan lawan atau polisi.  Esok mungkin, dalam kebodohan yang sama, kita akan kembali meributkan siapa yang salah dan siapa yang layak menyandang status pahlawan.

 

Saya jadi bertanya-tanya; mereka yang sinting atau saya yang acuh? Masih perlukah kita meributkan hal-hal seperti itu pada saat sebenarnya kita mengencingi stupa-stupa pengorbanan pemuda model bung Tomo? Kenapa tidak terus terang dan jujur saja kita berkata; Bung Tomo layaknya tokoh kemerdekaan lainnya tidak lebih dari seorang pecundang? Lalu apa pula pentingnya status kepahlawanan kita serukan dalam kemunafikan penuh air mata buaya bila sebenarnya pemuda model Bung Tomo itu tidak lebih dari orang gila pada masa dimana kita mengagungkan Globalisasi, Demokrasi dan Ejakulasi?

 

Pada saat mereka menunjukkan kepedulian pada Bung Tomo, sebenarnya orang-orang itu menghina Bung Tomo; menghina Surabaya, Medan Area, Bandung Lautan Api, Peristiwa Situjuh atau gerilya dan diplomasi. Saya semakin bertanya-tanya, pantaskah status kepahlawanan Bung Tomo ditentukan oleh orang-orang yang menista kemerdekaan itu sendiri. Sebab tidak seorang pun di masa sekarang yang bisa menentukan kadar kepahlawanan orang-orang seperti Bung Tomo.

 

Tidak dan itu tidak boleh terjadi. Pak Dirman telah mereka hina; di Jakarta setiap hari patungnya memberi hormat pada gedung-gedung megah perwakilan perusahaan asing. Sukarno-Hatta juga telah mereka pecundangi; Setiap saat Dua Bung itu melepas pesawat udara yang membawa perempuan-perempuan yang di seberang sana dipukuli, diperkosa dan dibunuh tanpa pembelaan berarti.  Sementara diplomat sejati seperti Agus Salim dan Sutan Syahrir mereka kucilkan di kawasan Menteng tanpa empati.

 

Itu tidak boleh terjadi lagi pada Bung Tomo. Kelak ia bisa menjadi nama jalan, gedung, Bandara atau tempat publik lainnya tetapi terasing dari rakyat yang diperjuangkannya. Biarkan Bung Tomo dalam keterasingan statusnya. Jauhkan tangan kotor dari bintang baktinya untuk kebebasan. Jujurlah pada diri kita kalau ia tidak lebih dari Bonek di tahun ’45.

Tetapi bila sebagai insan globalisasi, demokrasi dan ejakulasi kita masih menaruh sedikit respek; biarkan Bung Tomo tetap sebagai Pahlawan Tidak Dikenal. Persis seperti syair magis Toto Sudarto Bachtiar.

 

 

Posted in Ota | 4 Comments »

Teruskan Proyek Busway mu Bang Foke!

Posted by esito pada November 10, 2007

Aha! Tuan dan Nyonya di Pondok Indah baru saja sadar mereka merupakan bagian dari kaum urban Jakarta dengan kompleksitas permasalahannya. Selama ini kita sudah terbiasa mendengarkan teriakan rakyat menentang pemerintah propinsi di pasar-pasar tradisional, gubuk-gubuk hingga tanah-tanah tanpa Tuan. Tetapi ada teriakan dari Pondok Indah? Ini kejadian satu kali dalam satu abad. Ada yang bertanya, bukankah mereka adalah para Galacticos? Penghuni dari planet lain yang tidak tersentuh hukum propinsi alias Perda?

 

Itulah sebabnya saya terus menerus pantang mundur mendukung proyek Busway. Inilah satu-satunya kebijakan yang sedikit mendorong egaliterian. Dalam artian siapa saja kelak bisa menggunakannya dan di sisi lain siapa saja harus siap berkorban untuk megaproyek melawan iblis kemacetan ini. Setelah banyak lapak tergusur, jalan dipersempit dan beberapa angkutan kota trayek tertentu kekurangan penumpang, kali ini proyek busway menyapa para Galacticos di Pondok Indah. Tentu saja makhluk asing ini tersinggung, lantas balik menggugat di pengadilan. Ini makin menunjukkan betapa miskinnya solidaritas mereka dan besarnya prinsip sedapat-dapatnya menyelematkan perut masing-masing.

 

Pembangunan jalur busway telah menimbulkan kemacetan yang sangat parah. Lalu para komentator kebijakan adu lidah lewat media, tidak lupa para psikolog memaparkan teori hubungan antara kemacetan dengan tingkat stress. Bila mereka tanya pada saya, jawaban saya cuma satu; “Hidup Bang Foke!” Sebuah revolusi tidak mungkin zonder korban. Setelah sekian banyak penggusuran, saya heran kenapa orang-orang itu baru teriak sekarang. Pada saat aktifitas mereka terganggu dan bensin habis sekedar untuk terjebak dalam jejalan kendaraan, baru mereka mengatakan ini tidak benar. Sementara bensin yang sama mereka gunakan untuk membakar pasar rakyat lantas mengucilkan pedagang kecil di antara megahnya pusat perbelanjaan dengan parkir luas.

 

Ah, teruskan saja proyek busway ini Bang Foke. Lebat kumismu akan membuat jeri mereka yang tidak setuju. Bila busway tidak cukup menekan angka kendaraan pribadi yang menyesaki Jakarta, pindahpaksakan saja pusat perbelanjaan; mall dan plasa ke kepulauan seribu. Bukankah dengan demikian kemacetan bisa dialihkan dalam lalu lintas laut di kepulauan seribu. Dengan demikian industri bahari (yang jadi kebanggaan semu) bisa kita hidupkan. Ini solusi yang akan menguntungkan semua pihak. Tidak akan ada lagi lampu merah yang akan menjebak pengendara dalam trik murahan polisi.

 

Bila itu tidak cukup Bang Foke, perintahkan kantor-kantor di Jakarta untuk merumahkan karyawannya. Merumahkan artinya menyediakan kantor sebagai rumah karyawannya sehingga mobilitas manusia Jakarta yang tinggi bisa ditekan. Dua kali dalam seminggu kantor-kantor itu kasih karyawan liburan untuk mengunjungi pusat perbelanjaan di pulau seribu.

 

Bagaimana jika proyek busway ini macet di tengah jalan? Bang Foke tidak usah khawatir; jadikan saja jalur busway sebagai jalur ojek. Haltenya diubah menjadi pangkalan ojek. Semua tetap senang. Tidak usah mimpi tinggi-tinggi dengan proyek monorail, cukup motorail alias ojek!

 

Wah Bang Foke, masih begitu banyak rencana lainnya, apa tidak sebaiknya kita bertemu saja?  

 

Posted in Ota | 2 Comments »

Bukankah Malaysia Pantas Untuk Disayange?

Posted by esito pada November 8, 2007

Apa yang salah ketika Malaysia menggunakan lagu Rasa Sayange sebagai jingle promosi pariwisata mereka?  Ketimbang menghujat atau melakukan demonstrasi tidak perlu lebih baik kita dukung saja promosi wisata tersebut. Bukankah Malaysia jelas menyatakan bahwa lagu tersebut berakar dari kebudayaan Melayu dan bukan semata milik satu etnis di Indonesia?

Pada saat kita merasa jati diri kita sebagai sebuah bangsa terus digerogoti oleh penyeragaman ala globalisasi, bukankah tindakan Malaysia itu membantu kita untuk melalukan Mondialisasi kebudayaan kita lewat kancah internasional? Bila saya menjadi Menteri Pariwisata, saya akan sampaikan ucapan terima kasih pada Malaysia. Rasa Sayange jelas sisi lain dari kekayaan budaya Indonesia yang senantiasa berbicara Bali dan Jawa. Makanya aneh para seniman Maluku melakukan protes terhadap tindakan Malaysia itu. Kalau mau protes, ya seharusnya mereka itu protes pada pemerintah Indonesia. Kenapa tidak dari dulu melakukan mondialisasi terhadap Rasa Sayange?

Malaysia itu jelas lebih mirip adik kandung ketimbang kompetitor kita. Mereka selalu ingin dapat apa yang kakaknya punya. Dilihat kakaknya punya banyak pulau, mereka minta Sipadan dan Ligitan. Dilihatnya pula sang kakak punya banyak selat antar pulau, ingin pula ia punya Ambalat. Diamati kakaknya punya banyak penduduk, diminta kirimnya pula sekian ribu.

Tetapi maklum anak-anak, perilaku Malaysia adalah warna yang dicontohkan Indonesia. Pada saat hukum negara ini menelantarkan rakyatnya, dia contoh pula dengan menyia-nyiakan TKI lewat kekerasan, pembunuhan minus perlindungan hukum. Ketika di televisi adik kecil kita itu melihat bagaimana aparat Tramtip alias Polisi Pamong Praja ”menghajar” orang kecil di perkotaan. Seketika mereka contoh pula lewat operasi yang dilakukan RELA yang menyisir TKI disana.

Oh Malaysia, mereka itu lebih mirip adik kecil Indonesia yang menggemaskan. Perilaku kita adalah warna mereka. Bila negara ini santun memperlakukan rakyatnya, tentu Malaysia akan mencontoh pula disana. Jika negara ini tidak melulu berkutat dengan kebudayaan Jawa dan Bali, tentu turis Malaysia akan mendendangkan Rasa Sayange dari Banda hingga Saparua, di Maluku sana dan bukan menjadikannya promo wisata sendiri.

Jadi melakukan demo di depan kedutaan Malaysia atau terus memaki Malaysia lewat forum, jelas itu bentuk kecengengan seorang kakak yang tidak pernah dewasa!

Posted in Ota | 7 Comments »

Revolusi Coklat;Saatnya Pramuka (bukan sekedar pemuda) Memimpin Bangsa

Posted by esito pada November 8, 2007

Tiap hari peringatan di Indonesia adalah penanggalan wacana. Ketika Hari Sumpah Pemuda datang untuk ke-79 tahunnya, wacana baru pun muncul. Pesohor yang memakzulkan dirinya sebagai pemuda melemparkan wacana bahwa sudah saatnya pemuda memimpin bangsa. Dengan membungkus diri mereka dengan sang saka, perdebatan muncul lewat halaman opini media massa. Dan sebagaimana panas tersapu hujan, perdebatan itu ditutup dengan kata damai, “tidak perlu ada dikotomi muda dan tua”. Lalu di belakang panggung terdengar gunjingan, Parpol tidak memberi tempat pada kaum muda.

Pada saat jalur politik mengalami kebuntuan, Indonesia butuh sosok yang memiliki netralitas politik, berjiwa luhur dan memiliki keterampilan teknis. Sosok inilah yang bisa merebut kekuasaan dengan cepat, cekatan dan trengginas dan kemudian memimpin Indonesia. Satu-satunya jiwa muda yang potensial melakukan semua itu hanya Pramuka. Praja Muda Karana dengan seragam coklat lengkap dengan baret, kacu, tongkat dan tali temali.

Kunci utama perebutan kekuasaan terletak pada kematangan intelijen, Pramuka jelas siap melakukannya. Pramuka memiliki keterampilan teknis yang dibutuhkan untuk operasi intelijen. Bila tokoh muda alergi bekerjasama dengan BIN, Bais atau Intelkam Polri, mereka bisa menggunakan keterampilan teknis Pramuka. Bukankah dalam era Iptek dimana kita senantiasa ketinggalan ini yang dibutuhkan adalah keterampilan sandi pada tingkat yang sangat dasar untuk kepentingan intelijen. Pramuka, bukan tokoh muda, memiliki keterampilan tersebut. Mereka menguasai morse, Smaphore dan tentu saja sandi-sandi jejak menggunakan batu,rumput dan ranting.

Berikutnya adalah operasi penggalangan untuk menciptakan simpul-simpul strategis di tingkat masyarakat. Pramuka jelas memegang simpul-simpul tersebut. Penggalangan bisa dilakukan mulai dari tingkat Gugus Depan hingga Kwartir nasional atau mulai dari level Siaga hingga Pandega. Kerahasiaan terjamin, siapa pula yang akan curiga dengan wajah-wajah tanpa dosa bocah yang mengenakan seragam coklat.

Setelah penggalangan berhasil, suruh saja mahasiswa turun ke jalan. Sedikit chaos akan merontokkan kemapanan pemerintahan. Sementara para pramuka menyiapkan perkemahan dengan simpul-simpul yang rumit sebagai basis pertahanan. Tentara atau polisi mana pula yang akan tega membantai wajah-wajah lugu berseragam coklat ini. Jangan lagi berorasi tentang Korupsi dan bla…bla…bla..demokrasi, suruh saja seorang Pramuka tingkatan Siaga naik ke podium membacakan Dasa Darma Pramuka, kalau perlu ikut pula dibacakan Sapta Marga dan Delapan Wajib Prajurit. Tidak ada yang akan tersinggung bukan? Sementara masyarakat terpedaya oleh nilai-nilai luhur yang dibacakan tersebut, simpati pun didapatkan. Bila rakyat sudah bergerak, siapa yang akan bisa menahan laju zaman???

Ketika kekuasaan telah didapatkan, bukan tokoh muda, tetapi para Pramuka lah yang paling siap berkuasa. Mereka memiliki keterampilan teknis untuk menata masyarakat. Saka Bhayangkara menggantikan polisi, Saka Bahari menggantikan TNI AL hingga Saka Kencana menggantikan BKKBN. Mereka bisa pula menyulap Bulog menjadi dapur umum untuk masyarakat dalam transisi. Pramuka pula yang bisa menyediakan perumahan darurat untuk masyarakat. Dan yang penting Pramuka juga bisa diberdayakan sebagai jagawana penjaga hutan dalam rangka memerangi pembalakan liar. Jadi tidak sekedar demo di departemen kehutanan.

Sebagaimana salah satu dasa darma Pramuka, maka masyarakat mesti gemar menabung. Dengan demikian pusat perbelanjaan disulap menjadi kawasan produksi bukan konsumsi. Papan-papan iklan dirobohkan berganti pohon sawit untuk produksi. Kebun sawit akan berpusat di perkotaan bukan dengan menggunduli hutan. Pramuka akan mendorong Indonesia menuju masyarakat sosialis lewat kesetiakawanan sosial yang tergambarkan lewat saling membantu dan suka menolong. Pramuka akan membatasi impor telepon genggam sebab kita bisa menggunakan beragam sandi untuk berkomunikasi. Operator telepon seluler yang terus mengoper laba ke luar sana, silakan angkat kaki. Para remaja yang selalu “nongkrongin MTV” akan dipaksa untuk berbulan-bulan hidup di alam lewat perkemahan “Tanpa Batas”. Kendaraan pribadi dan umum akan dibatasi sebab Pramuka akan memperlebar trotoar. Orang-orang berangkat kerja dalam barisan regu dipimpin seorang Pinru lengkap dengan sempritan di kantongnya. Makin lama kualitas udara di perkotaan bisa dikembalikan.

Jangan lupa yang paling penting. Pada saat terjadi bencana, masyarakat yang menjadi korban tidak perlu lagi risau sebab satgas Pramuka senantiasa siap sedia. Satu-satunya perubahan yang mungkin tidak akan diterima semua masyarakat adalah penggantian “Sukarno-Hatta” sebagai ikon Indonesia menjadi Sultan Hamengkubuwono IX. Bukankah beliau Bapak Pramuka??

Tunggu apalagi para tokoh muda??? Segeralah menyerbu toko perlengkapan Pramuka di daerah Senen. Kenakan seragam coklatmu lengkap dengan kacu, baret dan tali di pinggang. Berbaris melingkar; ucapkan salam dan..Tepuk Pramuuuuka!!!! Jangan lagi merengek minta kekuasaan!

Posted in Ota | 4 Comments »

Menguji Kenabian Mushaddeq, Al Qiyadah

Posted by esito pada November 7, 2007

cara paling gampang untuk menguji kenabian Ahmad Moshaddeq

1. Tanyakan pada Lia Aminuddin yang mengaku Jibril, apa pernah ia menyampaikan wahyu kepada Mushaddeq.

2. Kirim email pada Maradona; sebagai “Tangan Tuhan”, apa pernah ia memberikan wahyu pada Mushaddeq lewat Lia Aminuddin.

3.  Datangilah Ian Antono atau Ahmad Albar, coba cek pada pentolan Godbless tersebut; apa Tuhan memberkati pewahyuan tersebut.

4.  Kalau jawabannya tidak cocok, satu-satunya tempat bertanya tinggal Mossad-eq Bin RI!!

Posted in Ota | 3 Comments »

Memahami Nurdin Halid

Posted by esito pada November 7, 2007

Harus diakui, Nurdin Halid adalah seorang patriot sebab ia menolak intervensi asing. Tidak itu saja, Nurdin juga mempertahankan independensi sepakbola dari campur tangan pemerintah. Tetapi yang lebih penting dari itu semua, Nurdin Halid menjadikan dirinya contoh spektakuler dari kampanye melawan rasisme. Narapidana juga bisa memimpin sebuah federasi sepakbola, persetan dengan statuta FIFA yang mendiskriminasi kaum pesakitan itu.

Nurdin Halid benar-benar seorang patriot dalam tawanan. Pada penahanan pertama dulu, rapat PSSI dilakukan di balik sel. Hasilnya, Indonesia ditunjuk menjadi salah satu tuan rumah piala Asia. Walaupun Indonesia tidak lolos dari penyisihan grup, nasionalisme seketika bisa dibangkitkan lewat aksi Bambang Pamungkas dan kawan-kawan. Hanya Nurdin Halid yang bisa memancing puluhan ribu orang berkumpul untuk kepentingan nasional dan bukan kepentingan partai atau ormas. Sesuatu yang langka akhir-akhir ini. Maka Nurdin Halid telah menggenapi kesahihannya sebagai seorang nasionalis sejati.

Nurdin tentu merasa, minyak goreng Bulog tidak ada sangkut pautnya dengan PSSI. Ia hanya mendistribusikan minyak goreng bukan pemain asing secara ilegal. Dan minyak goreng tidak ada sangkut pautnya dengan prestasi tim nasional atau roda liga yang tengah bergulir. Sulit untuk mengaitkan minyak goreng dengan jebloknya prestasi tim nasional. Pengadilan mesti memeras keringat untuk mencari hubungannya. Kaitan itu yang dibutuhkan oleh logika dan “akal sehat” Nurdin agar legowo melepaskan kursi Ketua Umum PSSI. Nurdin tidak akan mendengarkan pendapat dari FIFA atau lembaga internasional lainnya sebab ia tidak melakukan kejahatan serius. Hanya mendistribusikan minyak goreng bukan uranium untuk mengembangkan nuklir!

Ketika insan sepakbola Indonesia ketar-ketir dengan kengototan Nurdin Halid dan ancaman pembekuan dari FIFA, di balik jeruji besi yang nyaman Nurdin pastilah tersenyum. Pikirnya, bukankah sudah saatnya kelihaian orang Indonesia dalam berorganisasi dibuktikan dalam level internasional. Bila nanti FIFA membekukan PSSI, bukankah insan sepakbola bisa mendirikan PSSI Perjuangan atau Pembaruan. PSSI-P yang mengakui statuta FIFA sehingga roda kompetisi tetap bergulir dan Indonesia tetap bisa bermain di level internasional.

Bravo Nurdin Halid!!

Posted in Ota | 1 Comment »

Debut Teranyar Tuan Presiden

Posted by esito pada November 7, 2007

Saya membayangkan sebuah auditorium besar di Hollywood sana, mungkin ruangan yang sama dengan tempat penganugerahan Academy dan Grammy Award. Disorot oleh jutaan watt cahaya, ia berdiri dengan santun, dingin dan bersahaja menerima sebuah penghargaan. Bukan Nobel perdamaian tetapi mungkin MTV Music Award. Maka disini kita akan melakukan arak-arakan melebihi kegembiraan menyambut lebaran. Penghargaan itu akan membungkam gosip-gosip seputar perceraian, pernikahan atau tentang artis-artis yang kehamilannya mencuri start dari ijab kabul.

 

Khayalan itu datang bersamaan dengan peluncuran album rekaman presiden kita. Bahkan sebelum album ini meledak di pasar, peluncurannya saja sudah menimbulkan decak kagum. Bagaimana tidak, di tengah kekisruhan ekonomi dan politik, bencana sana sini, kejahatan yang merajalela dan kemiskinan yang tidak kunjung menemukan solusi kecuali bunuh dini, presiden masih punya cukup waktu untuk menyumbangkan suara emasnya. Mungkin inilah salah satu solusi dari permasalahan bangsa ini. Sebuah suara; alunan nadanya mungkin melenakan para tikus yang tengah menggerogoti uang negara, meninabobokan orang-orang yang kelaparan, menjadi nafas yang memburu pelaku kejaharan dan membungkam gosip seputar rumah tangga Ahmad Dhani atau iri dengki beberapa penyanyi terhadap kesuksesan Kangen Band.

 

Bila album itu dikomersilkan dan dilempar ke pasar, tidak diragukan lagi album itu akan meledak. Kesuksesan ini jelas bisa terbaca karena beberapa kondisi. Pertama, presiden kita adalah tokoh paling populer di se-antero Nusantara. Popularitas itulah kunci dari semua pintu kesuksesan dalam ranah hiburan tanah air. Kedua, karena penyanyinya adalah seorang presiden. Ini sisi nyentrik yang akan menarik minat para penikmat musik. Di tengah aroganisme pemimpin banyak negara, ia tampil dengan suara emas. Suara emas tentu tidak menyimpan dosa. Jauh mengangkangi kediktatoran presiden Bush terhadap dunia atau kediktatoran Tan Shwee di Myanmar sana. Ketiga, karena memang suara presiden sendiri enak didengar. Inilah sisi objektif yang sulit dilawan dengan pretensi. Dan terakhir, apabila ada orang yang mengatakan suara presiden jelek dan tidak mau membeli rekamannya, tentu ia bisa dipidana dengan pasal karet; penghinaan terhadap presiden. Yang terakhir ini semoga tidak terjadi, sebab UU yang memuat pasal penghinaan itu katanya telah digugurkan oleh Mahkamah Konstitusi.

 

Karir baru presiden ini mesti kita dukung dengan segenap hati. Ada harapan di balik hati sanubari. Pada tahun 2009 nanti, presiden kita ini akan menghiasi panggung hiburan tanah air dan bukan panggung Pemilu. Ia akan menertawakan elit-elit tua yang masih bertarung memperebutkan kursi legislatif dan Presiden. Bila pada tahun 2009, ia dengan legowo tidak mencalonkan diri lagi sebagai presiden maka Presiden kita ini akan mencatatkan sejarah. Ia menjadi mantan presiden pertama yang meninggalkan kenang-kenangan baik bukan kenangan buruk sebagaimana melekat pada Sukarno, Suharto, Habibie, Gusdur dan Megawati. Sebab ia meninggalkan sebuah album emas berisi kompilasi lagu.

 

 

 

 

Posted in Ota | Leave a Comment »

Masih Adakah Ruang Untuk Pahlawan

Posted by esito pada November 7, 2007

Bila hari ini kita harus kembali menundukkan kepala lantas dengan takzim mendengarkan sebuah ode, masihkah ada makna kenangan dalam hening cipta? Bukankah yang bergema dalam benak kita sekarang adalah nama-nama jalan yang menghubungkan tembok beton. Dan bukan lakon tentang orang-orang yang telah berbuat untuk sesuatu di masa lalu. Rutinitas tidak memberi tempat untuk kita berhenti sejenak; menatap plang jalan, patung dan langit Indonesia yang menjadi saksi pergantian waktu.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, ucapan Sukarno itu mampu menyelinap di balik kokohnya tembok ratapan Indonesia kontemporer. Tetapi kalimat itu tidak juga menyelinap dalam relung hati manusia Indonesia. Ia hanya menemukan sosok patung bisu yang bersaksi tentang masa kini. Ia yang ditempa hujan asam dan asap hitam meratap tak berdaya melihat bangsa yang melupakan masa lalu tetapi juga gagap menggapai masa depan.

Apakah pentingnya lagi mengenang pahlawan, bila imajinasi fiktif telah mampu menghadirkan sosok dan perbuatan itu dalam ruang privasi. Patriot kita pun tampak kuyu apabila dibandingkan dengan gambaran-gambaran palsu tabung kaca televisi. Adakah gunanya cerita tentang pengorbanan ribuan orang apabila tiap hari kita mendengar berita kematian yang menyesakkan. Masih perlukah gambaran bambu runcing di sketsa ulang sementara senapan serbu beredar luas di pasar gelap Poso dan Ambon.

Sejarah tentang para patriot kemerdekaan nyaris punah bagai seonggok bukit kecil yang terus menerus digerus erosi. Rutininitas telah membunuh kenangan. Apalah arti sebuah jejak sejarah. Ia bisa dihapus atau setidaknya dimanipulasi menjadi bentuk yang berbeda. Kejadian di masa lalu, tidak berarti banyak untuk masa sekarang. Tiap generasi meretas jalannya sendiri. Hubungan kausalitas tidak memiliki makna. Bila masa lalu bisa menentukan masa depan, lantas apa gunanya kita bekerja untuk hari ini. Kita berdiri dengan gagah, menistakan ucapan Sukarno tentang pahlawan dan sejarah. Kita pun tidak juga beranjak menjadi bangsa yang besar.

Tetapi salahkah bila ada yang mengatakan bahwa sejarah bukanlah jejak, tetapi udara, memberi hidup pada setiap masa. Para martir tanah air sebenarnya tidak pernah mati. Mereka tetap hidup, bukan dalam bentuk monumen tetapi semangat yang tidak kunjung padam. Mungkin kita selama ini salah dalam menatap masa silam. Kita mengenang orang tetapi tidak mempelajari perbuatannya. Mungkin sebagian kita mengkultuskan tokoh, tetapi tidak manauladani pengorbanannya. Itu sebabnya, jagoan maya menggusur pahlawan kere kita.

Usia kepahlawanan dalam sejarah Indonesia berumur pendek. Setiap kali perjuangannya dilanjutkan yang timbul adalah pengkhianatan. Peralihan generasi yang lazim disebut dengan penamaan angkatan, tidak lebih dari perebutan kekuasaan; dari Jepang, Belanda, Sukarno dan Suharto. Maka pahlawan tersekat dalam ruang waktu yang sempit. Ia lebih baik mati muda. Kita tidak mengenangnya dalam rentang epos yang panjang tetapi dalam sebuah insiden yang membinasakan seperti; Surabaya, Bandung Lautan Api, Medan Area, Puputan dan banyak kejadian lain di tanah air pada masa revolusi fisik.

“Sekali berarti, sesudah itu mati”, mengutip sajak Diponegoro-nya Chairil Anwar, itulah sosok pahlawan kemerdekaan kita. Mereka adalah orang-orang yang berani menantang maut. Adalah gairah kemerdekaan yang menciptakan manusia dengan kualitas seperti itu. Adalah harga diri kolektif yang membuat sosok-sosok langka itu menjadi jamak pada masa itu. Tetapi setelah kemerdekaan itu penuh direngkuh, mereka yang masih hidup tidak berhasil menantang kehidupan. Generasi ’45, dalam arus kekuasaan pasca kemerdekaan bukan tidak meninggalkan noda hitam.

Bila kita harus manauladani, maka kita dipaksa untuk meneropong rentang kejadian yang pendek. Gairah “merdeka atau mati” adalah gairah universal pembebasan diri. Di India, Gandhi menyebutnya dengan istilah karega ya marega, berbuat atau mati. Di Amerika latin, lazim kita mendengar patria o muerte, tanah air atau mati. Gairah itulah yang menciptakan martir, tauladan bagi mereka yang hidup sekaligus energi untuk sebuah bangsa. Gagasan pengorbanan diri untuk pembebasan satu bangsa memang bukan suatu hal yang bisa muncul setiap saat. Ada saat-saat kemerosotan dimana mimpi masa depan menipu. Masa depan yang lantang mengatakan bahwa masa lalu tidak lebih dari belenggu yang memasung.

Yang tersisa dari masa lalu bukan sekedar “tulang diliputi debu” tetapi karakter manusia-manusia besar. Para pemimpin kontemporer seharusnya meminjam karakter tersebut. Sebab tidak adanya karakter martir itu lah yang menjadi pangkal masalah kepemimpinan nasional pada saat ini. Para pemimpin yang lantang mengatakan bahwa mereka berdiri di atas semua golongan. Tetapi pada hakikatnya mereka bukan sekedar berdiri, tetapi menginjak-injak semua golongan untuk kepentingan pribadi, golongan dan partainya.

Hawa dingin gerimis sepuluh November masih memaksa kita untuk menengok masa lalu. Pekikan merdeka, kelewang yang menerjang, peluru bundar yang bersarang dan kembang yang gugur melingkar membentuk karangan bunga. Bisakah kita sejenak melepas kepongahan masa depan kemudian mengulurkan tangan. Rendah hati kita berucap,

“Bung, mari kupinjam semangatmu dan kuteruskan apa yang tidak sempat kau angankan”


Posted in Luput | 1 Comment »

Als Ik

Posted by esito pada November 7, 2007

…andai aku seorang Belanda, aku tidak akan merencanakan pesta-pesta kemerdekaan di antara rakyat yang jelas telah kita curi kemerdekaannya…

Pada tahun 1913, nukilan dari pamplet berjudul Als ik eens Nederlander was (Seandainya aku seorang Belanda) adalah sebuah kalimat yang berbahaya. Lebih dari sebuah protes, pamplet yang ditulis oleh Suwardi Suryaningrat itu adalah sebuah konfrontasi terbuka melawan pemerintah kolonial yang hendak merayakan 100 tahun pembebasan Belanda dari penjajahan Perancis. Karena pamplet itu, Suwardi dibuang ke Belanda.

Tentu bukan karena peristiwa itu, nama Suwardi Suryaningrat atau Ki Hadjar Dewantara lekat dalam memori kolektif kita. Kita lebih mengenal Suwardi sebagai bapak pendidikan. Sebuah gelar yang dulu ramai-ramai disandingkan dengan istilah proklamator, bapak koperasi atau bapak pembangunan. Tanggal lahirnya dilingkari dengan sebuah tanda. Setiap tahun kita mengingatnya sebagai hari pendidikan nasional. Rutinitas penanggalan yang membuat setiap peringatan hari nasional menjadi hambar.

Bukan kelahiran tentunya yang membuat Suwardi tampak istimewa di mata kita. Tetapi kesadaran dan perjuangan untuk perubahan kualitas kehidupan pribumi yang membuat tanggal lahirnya pantas untuk diperingati. Dan kesadaran itu tidak muncul dengan sendirinya, bagai seorang penyendiri mendapat ilham. Kesadaran itu adalah sebuah proses yang dimunculkan oleh pendidikan dan pengalaman.

Lima tahun setelah kepulangannya dari negeri Belanda, Suwardi tidak lagi tampak seperti anak muda garang yang suka berandai-andai menjadi seorang Belanda untuk menyampaikan ironi. Tampaknya ada sebuah kesadaran bahwa sindiran dengan mengandaikan diri sebagai penjajah tidak cukup untuk merubah keadaan. Suwardi, -mungkin- pada tahun 1922 itu lebih senang untuk sekedar mengatakan “Als ik”.  Seandainya aku. Dua kata itu memang terbaca sebagai kalimat tidak lengkap. Tetapi justru dari ketidaklengkapan itu, setiap orang  bisa menuliskan apa saja dibelakangnya. Suwardi menyadari bahwa pendidikan akan menjadi mata pena dimana tiap orang bisa melengkapi kalimat itu sesuai dengan keinginannya. Taman Siswa, sekolah untuk pribumi yang lepas dari subsidi pemerintah didirikan oleh Suwardi Suryaningrat pada tahun 1922.

Als ik. Dari sebuah pengantar sindiran, kalimat tidak lengkap itu telah berubah menjadi ruang kemungkinan. Dari dua mata pedang berlawanan, sebagai pembebas atau pembelenggu sebagaimana ditawarkan oleh Immanuel Kant, Suwardi memilih pendidikan sebagai sarana pembebasan. Kemerdekaan penuh dalam arti fisik sebagaimana dicita-citakan oleh Indische Partij, -wahana politik Suwardi, Cipto dan Douwes Dekker- harus didahului oleh kemerdekaan dalam memilih. Pendidikan akan membuat begitu banyak pilihan tidak lagi kasat mata. Sekali lagi, bukan Taman Siswa yang membuat Suwardi begitu hebat, tetapi konsistensi ide dan perjuangannya yang simultan dan relevan.

Dalam hikayat kebangsaan kita, pendidikan memang terbukti menjadi sarana pembebasan. Kesadaran nasional sebagian besar muncul dari kawah candradimuka pendidikan. Dari beragam institusi pendidikan kolonial, muncul para intelektual yang memperjuangkan kemerdekan Hindia Belanda. Tidak salah  kemudian jika pemerintah kolonial  melabeli mereka dengan istilah Ondankbaar Studenten, para pelajar yang tidak tahu terima kasih. Sistem pendidikan dengan belenggu kelas sosial justru  menghasilkan intelektual-intelektual yang justru ingin melepaskan belenggu itu  Waktu, lewat catatan sejarah, bersaksi pada kita yang hidup di jaman ini bahwa mereka berhasil. Setidaknya untuk cita-cita Indonesia merdeka.

Keadaan yang kita rasakan sekarang sungguh berkebalikan dengan realita masa lampau. Bila dulu problema-problema kemerdekaan dan kebebasan menjadi polemik kaum terdidik. Sekarang ini dalam suasana kemerdekaan dan kebebasan, problema-problema pendidikan bermunculan tanpa ujung penyelesaian. Bila dulu tembok angkuh eksklusivisme pendidikan coba dirubuhkan oleh produk pendidikan itu sendiri. Sekarang dalam suasana kebebasan, serpihan tembok itu kembali direkat untuk kemudian didekonstruksi ulang. Bila dulu ada kelas sosial sebagai pembeda sekarang ada kelas ekonomi yang membuat beberapa institusi pendidikan tampak sebagai utopia bagi orang yang tidak berpunya. Kelas pekerja terdidik mendominasi ibukota. Tetapi mereka tidak menawarkan perubahan apa-apa.

Pergeseran zaman memang sudah lewat. Kita telah terpaku pada satu lempeng bernama pasar. Lingua Franca-nya adalah penawaran dan permintaan. Ideologinya adalah uang. Tampaknya pendidikan tidak lagi diarahkan untuk menciptakan perubahan tetapi untuk sekedar menyemaikan benih kemapanan. Di negeri ini, hipotesa Nietzsche lebih satu abad silam terjawab sudah. Tugas pendidikan tinggi adalah mengubah manusia menjadi mesin. Caranya adalah dengan belajar bagaimana merasa bosan. Semua itu bisa dicapai dengan konsep tugas. Tiap tahun, ribuan sarjana baru dilahirkan untuk bingung. Sementara kualitas pendidikan disesuikan dengan selera pasar.

Als Ik, seandainya aku. Betapa cemburu kita pada Suwardi dan generasinya. Mereka yang dulu dikungkung oleh banyak hal itu bisa berandai-andai untuk sesuatu yang besar dan benar. Sekarang, sebuah lingkaran imajiner membatasi kita untuk berandai-andai. Sebab lewat beragam corongnya, penguasa yang berwujud pemilik modal menakut-nakuti kita untuk melakukan itu. Kemiskinan, pengangguran, dan keterkucilan adalah bentuk lain dari penjara masa lalu. Sementara problema pendidikan tidak kunjung terpecahkan. Nada sumbang nasib Oemar Bakrie-pun semakin jarang terdengar, sebab -sebagaimana kehendak pasar- Iwan Fals sang pendendangnya lebih sibuk beriklan untuk nada sambung pribadi.

Suwardi Suryaningrat, potret laki-laki itu adalah keseharian kita. Dalam uang kertas dua puluh ribu, ia berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Di balik potretnya pada uang kertas, samar terlihat kalimat, Als Ik, seandainya aku. Bagi kita yang sudah terbiasa menilai semua hal dari angka dan bukan rupa. Kalimat tidak lengkap itu akan dengan mudah disempurnakan. Seandainya aku punya uang lebih dari ini!

           

          

           

 

             

Posted in Luput | 1 Comment »