ibu, aku ingin mengubah bintang

Dunia Yang Lebih Baik Itu Masih Mungkin!

  •  

    November 2007
    S S R K J S M
         
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  

Arsip untuk November 8th, 2007

Bukankah Malaysia Pantas Untuk Disayange?

Posted by esito pada November 8, 2007

Apa yang salah ketika Malaysia menggunakan lagu Rasa Sayange sebagai jingle promosi pariwisata mereka?  Ketimbang menghujat atau melakukan demonstrasi tidak perlu lebih baik kita dukung saja promosi wisata tersebut. Bukankah Malaysia jelas menyatakan bahwa lagu tersebut berakar dari kebudayaan Melayu dan bukan semata milik satu etnis di Indonesia?

Pada saat kita merasa jati diri kita sebagai sebuah bangsa terus digerogoti oleh penyeragaman ala globalisasi, bukankah tindakan Malaysia itu membantu kita untuk melalukan Mondialisasi kebudayaan kita lewat kancah internasional? Bila saya menjadi Menteri Pariwisata, saya akan sampaikan ucapan terima kasih pada Malaysia. Rasa Sayange jelas sisi lain dari kekayaan budaya Indonesia yang senantiasa berbicara Bali dan Jawa. Makanya aneh para seniman Maluku melakukan protes terhadap tindakan Malaysia itu. Kalau mau protes, ya seharusnya mereka itu protes pada pemerintah Indonesia. Kenapa tidak dari dulu melakukan mondialisasi terhadap Rasa Sayange?

Malaysia itu jelas lebih mirip adik kandung ketimbang kompetitor kita. Mereka selalu ingin dapat apa yang kakaknya punya. Dilihat kakaknya punya banyak pulau, mereka minta Sipadan dan Ligitan. Dilihatnya pula sang kakak punya banyak selat antar pulau, ingin pula ia punya Ambalat. Diamati kakaknya punya banyak penduduk, diminta kirimnya pula sekian ribu.

Tetapi maklum anak-anak, perilaku Malaysia adalah warna yang dicontohkan Indonesia. Pada saat hukum negara ini menelantarkan rakyatnya, dia contoh pula dengan menyia-nyiakan TKI lewat kekerasan, pembunuhan minus perlindungan hukum. Ketika di televisi adik kecil kita itu melihat bagaimana aparat Tramtip alias Polisi Pamong Praja ”menghajar” orang kecil di perkotaan. Seketika mereka contoh pula lewat operasi yang dilakukan RELA yang menyisir TKI disana.

Oh Malaysia, mereka itu lebih mirip adik kecil Indonesia yang menggemaskan. Perilaku kita adalah warna mereka. Bila negara ini santun memperlakukan rakyatnya, tentu Malaysia akan mencontoh pula disana. Jika negara ini tidak melulu berkutat dengan kebudayaan Jawa dan Bali, tentu turis Malaysia akan mendendangkan Rasa Sayange dari Banda hingga Saparua, di Maluku sana dan bukan menjadikannya promo wisata sendiri.

Jadi melakukan demo di depan kedutaan Malaysia atau terus memaki Malaysia lewat forum, jelas itu bentuk kecengengan seorang kakak yang tidak pernah dewasa!

Ditulis dalam Ota | 7 Komentar »

Revolusi Coklat;Saatnya Pramuka (bukan sekedar pemuda) Memimpin Bangsa

Posted by esito pada November 8, 2007

Tiap hari peringatan di Indonesia adalah penanggalan wacana. Ketika Hari Sumpah Pemuda datang untuk ke-79 tahunnya, wacana baru pun muncul. Pesohor yang memakzulkan dirinya sebagai pemuda melemparkan wacana bahwa sudah saatnya pemuda memimpin bangsa. Dengan membungkus diri mereka dengan sang saka, perdebatan muncul lewat halaman opini media massa. Dan sebagaimana panas tersapu hujan, perdebatan itu ditutup dengan kata damai, “tidak perlu ada dikotomi muda dan tua”. Lalu di belakang panggung terdengar gunjingan, Parpol tidak memberi tempat pada kaum muda.

Pada saat jalur politik mengalami kebuntuan, Indonesia butuh sosok yang memiliki netralitas politik, berjiwa luhur dan memiliki keterampilan teknis. Sosok inilah yang bisa merebut kekuasaan dengan cepat, cekatan dan trengginas dan kemudian memimpin Indonesia. Satu-satunya jiwa muda yang potensial melakukan semua itu hanya Pramuka. Praja Muda Karana dengan seragam coklat lengkap dengan baret, kacu, tongkat dan tali temali.

Kunci utama perebutan kekuasaan terletak pada kematangan intelijen, Pramuka jelas siap melakukannya. Pramuka memiliki keterampilan teknis yang dibutuhkan untuk operasi intelijen. Bila tokoh muda alergi bekerjasama dengan BIN, Bais atau Intelkam Polri, mereka bisa menggunakan keterampilan teknis Pramuka. Bukankah dalam era Iptek dimana kita senantiasa ketinggalan ini yang dibutuhkan adalah keterampilan sandi pada tingkat yang sangat dasar untuk kepentingan intelijen. Pramuka, bukan tokoh muda, memiliki keterampilan tersebut. Mereka menguasai morse, Smaphore dan tentu saja sandi-sandi jejak menggunakan batu,rumput dan ranting.

Berikutnya adalah operasi penggalangan untuk menciptakan simpul-simpul strategis di tingkat masyarakat. Pramuka jelas memegang simpul-simpul tersebut. Penggalangan bisa dilakukan mulai dari tingkat Gugus Depan hingga Kwartir nasional atau mulai dari level Siaga hingga Pandega. Kerahasiaan terjamin, siapa pula yang akan curiga dengan wajah-wajah tanpa dosa bocah yang mengenakan seragam coklat.

Setelah penggalangan berhasil, suruh saja mahasiswa turun ke jalan. Sedikit chaos akan merontokkan kemapanan pemerintahan. Sementara para pramuka menyiapkan perkemahan dengan simpul-simpul yang rumit sebagai basis pertahanan. Tentara atau polisi mana pula yang akan tega membantai wajah-wajah lugu berseragam coklat ini. Jangan lagi berorasi tentang Korupsi dan bla…bla…bla..demokrasi, suruh saja seorang Pramuka tingkatan Siaga naik ke podium membacakan Dasa Darma Pramuka, kalau perlu ikut pula dibacakan Sapta Marga dan Delapan Wajib Prajurit. Tidak ada yang akan tersinggung bukan? Sementara masyarakat terpedaya oleh nilai-nilai luhur yang dibacakan tersebut, simpati pun didapatkan. Bila rakyat sudah bergerak, siapa yang akan bisa menahan laju zaman???

Ketika kekuasaan telah didapatkan, bukan tokoh muda, tetapi para Pramuka lah yang paling siap berkuasa. Mereka memiliki keterampilan teknis untuk menata masyarakat. Saka Bhayangkara menggantikan polisi, Saka Bahari menggantikan TNI AL hingga Saka Kencana menggantikan BKKBN. Mereka bisa pula menyulap Bulog menjadi dapur umum untuk masyarakat dalam transisi. Pramuka pula yang bisa menyediakan perumahan darurat untuk masyarakat. Dan yang penting Pramuka juga bisa diberdayakan sebagai jagawana penjaga hutan dalam rangka memerangi pembalakan liar. Jadi tidak sekedar demo di departemen kehutanan.

Sebagaimana salah satu dasa darma Pramuka, maka masyarakat mesti gemar menabung. Dengan demikian pusat perbelanjaan disulap menjadi kawasan produksi bukan konsumsi. Papan-papan iklan dirobohkan berganti pohon sawit untuk produksi. Kebun sawit akan berpusat di perkotaan bukan dengan menggunduli hutan. Pramuka akan mendorong Indonesia menuju masyarakat sosialis lewat kesetiakawanan sosial yang tergambarkan lewat saling membantu dan suka menolong. Pramuka akan membatasi impor telepon genggam sebab kita bisa menggunakan beragam sandi untuk berkomunikasi. Operator telepon seluler yang terus mengoper laba ke luar sana, silakan angkat kaki. Para remaja yang selalu “nongkrongin MTV” akan dipaksa untuk berbulan-bulan hidup di alam lewat perkemahan “Tanpa Batas”. Kendaraan pribadi dan umum akan dibatasi sebab Pramuka akan memperlebar trotoar. Orang-orang berangkat kerja dalam barisan regu dipimpin seorang Pinru lengkap dengan sempritan di kantongnya. Makin lama kualitas udara di perkotaan bisa dikembalikan.

Jangan lupa yang paling penting. Pada saat terjadi bencana, masyarakat yang menjadi korban tidak perlu lagi risau sebab satgas Pramuka senantiasa siap sedia. Satu-satunya perubahan yang mungkin tidak akan diterima semua masyarakat adalah penggantian “Sukarno-Hatta” sebagai ikon Indonesia menjadi Sultan Hamengkubuwono IX. Bukankah beliau Bapak Pramuka??

Tunggu apalagi para tokoh muda??? Segeralah menyerbu toko perlengkapan Pramuka di daerah Senen. Kenakan seragam coklatmu lengkap dengan kacu, baret dan tali di pinggang. Berbaris melingkar; ucapkan salam dan..Tepuk Pramuuuuka!!!! Jangan lagi merengek minta kekuasaan!

Ditulis dalam Ota | 2 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.