ibu, aku ingin mengubah bintang

Dunia Yang Lebih Baik Itu Masih Mungkin!

  •  

    November 2007
    S S R K J S M
         
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  

Memahami Nurdin Halid

Ditulis oleh esito di/pada November 7, 2007

Harus diakui, Nurdin Halid adalah seorang patriot sebab ia menolak intervensi asing. Tidak itu saja, Nurdin juga mempertahankan independensi sepakbola dari campur tangan pemerintah. Tetapi yang lebih penting dari itu semua, Nurdin Halid menjadikan dirinya contoh spektakuler dari kampanye melawan rasisme. Narapidana juga bisa memimpin sebuah federasi sepakbola, persetan dengan statuta FIFA yang mendiskriminasi kaum pesakitan itu.

Nurdin Halid benar-benar seorang patriot dalam tawanan. Pada penahanan pertama dulu, rapat PSSI dilakukan di balik sel. Hasilnya, Indonesia ditunjuk menjadi salah satu tuan rumah piala Asia. Walaupun Indonesia tidak lolos dari penyisihan grup, nasionalisme seketika bisa dibangkitkan lewat aksi Bambang Pamungkas dan kawan-kawan. Hanya Nurdin Halid yang bisa memancing puluhan ribu orang berkumpul untuk kepentingan nasional dan bukan kepentingan partai atau ormas. Sesuatu yang langka akhir-akhir ini. Maka Nurdin Halid telah menggenapi kesahihannya sebagai seorang nasionalis sejati.

Nurdin tentu merasa, minyak goreng Bulog tidak ada sangkut pautnya dengan PSSI. Ia hanya mendistribusikan minyak goreng bukan pemain asing secara ilegal. Dan minyak goreng tidak ada sangkut pautnya dengan prestasi tim nasional atau roda liga yang tengah bergulir. Sulit untuk mengaitkan minyak goreng dengan jebloknya prestasi tim nasional. Pengadilan mesti memeras keringat untuk mencari hubungannya. Kaitan itu yang dibutuhkan oleh logika dan “akal sehat” Nurdin agar legowo melepaskan kursi Ketua Umum PSSI. Nurdin tidak akan mendengarkan pendapat dari FIFA atau lembaga internasional lainnya sebab ia tidak melakukan kejahatan serius. Hanya mendistribusikan minyak goreng bukan uranium untuk mengembangkan nuklir!

Ketika insan sepakbola Indonesia ketar-ketir dengan kengototan Nurdin Halid dan ancaman pembekuan dari FIFA, di balik jeruji besi yang nyaman Nurdin pastilah tersenyum. Pikirnya, bukankah sudah saatnya kelihaian orang Indonesia dalam berorganisasi dibuktikan dalam level internasional. Bila nanti FIFA membekukan PSSI, bukankah insan sepakbola bisa mendirikan PSSI Perjuangan atau Pembaruan. PSSI-P yang mengakui statuta FIFA sehingga roda kompetisi tetap bergulir dan Indonesia tetap bisa bermain di level internasional.

Bravo Nurdin Halid!!

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>