ibu, aku ingin mengubah bintang

Dunia Yang Lebih Baik Itu Masih Mungkin!

  •  

    November 2007
    S S R K J S M
         
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    2627282930  

Arsip untuk November 7th, 2007

Menguji Kenabian Mushaddeq, Al Qiyadah

Ditulis oleh esito di/pada November 7, 2007

cara paling gampang untuk menguji kenabian Ahmad Moshaddeq

1. Tanyakan pada Lia Aminuddin yang mengaku Jibril, apa pernah ia menyampaikan wahyu kepada Mushaddeq.

2. Kirim email pada Maradona; sebagai “Tangan Tuhan”, apa pernah ia memberikan wahyu pada Mushaddeq lewat Lia Aminuddin.

3.  Datangilah Ian Antono atau Ahmad Albar, coba cek pada pentolan Godbless tersebut; apa Tuhan memberkati pewahyuan tersebut.

4.  Kalau jawabannya tidak cocok, satu-satunya tempat bertanya tinggal Mossad-eq Bin RI!!

Ditulis dalam Ota | Leave a Comment »

Memahami Nurdin Halid

Ditulis oleh esito di/pada November 7, 2007

Harus diakui, Nurdin Halid adalah seorang patriot sebab ia menolak intervensi asing. Tidak itu saja, Nurdin juga mempertahankan independensi sepakbola dari campur tangan pemerintah. Tetapi yang lebih penting dari itu semua, Nurdin Halid menjadikan dirinya contoh spektakuler dari kampanye melawan rasisme. Narapidana juga bisa memimpin sebuah federasi sepakbola, persetan dengan statuta FIFA yang mendiskriminasi kaum pesakitan itu.

Nurdin Halid benar-benar seorang patriot dalam tawanan. Pada penahanan pertama dulu, rapat PSSI dilakukan di balik sel. Hasilnya, Indonesia ditunjuk menjadi salah satu tuan rumah piala Asia. Walaupun Indonesia tidak lolos dari penyisihan grup, nasionalisme seketika bisa dibangkitkan lewat aksi Bambang Pamungkas dan kawan-kawan. Hanya Nurdin Halid yang bisa memancing puluhan ribu orang berkumpul untuk kepentingan nasional dan bukan kepentingan partai atau ormas. Sesuatu yang langka akhir-akhir ini. Maka Nurdin Halid telah menggenapi kesahihannya sebagai seorang nasionalis sejati.

Nurdin tentu merasa, minyak goreng Bulog tidak ada sangkut pautnya dengan PSSI. Ia hanya mendistribusikan minyak goreng bukan pemain asing secara ilegal. Dan minyak goreng tidak ada sangkut pautnya dengan prestasi tim nasional atau roda liga yang tengah bergulir. Sulit untuk mengaitkan minyak goreng dengan jebloknya prestasi tim nasional. Pengadilan mesti memeras keringat untuk mencari hubungannya. Kaitan itu yang dibutuhkan oleh logika dan “akal sehat” Nurdin agar legowo melepaskan kursi Ketua Umum PSSI. Nurdin tidak akan mendengarkan pendapat dari FIFA atau lembaga internasional lainnya sebab ia tidak melakukan kejahatan serius. Hanya mendistribusikan minyak goreng bukan uranium untuk mengembangkan nuklir!

Ketika insan sepakbola Indonesia ketar-ketir dengan kengototan Nurdin Halid dan ancaman pembekuan dari FIFA, di balik jeruji besi yang nyaman Nurdin pastilah tersenyum. Pikirnya, bukankah sudah saatnya kelihaian orang Indonesia dalam berorganisasi dibuktikan dalam level internasional. Bila nanti FIFA membekukan PSSI, bukankah insan sepakbola bisa mendirikan PSSI Perjuangan atau Pembaruan. PSSI-P yang mengakui statuta FIFA sehingga roda kompetisi tetap bergulir dan Indonesia tetap bisa bermain di level internasional.

Bravo Nurdin Halid!!

Ditulis dalam Ota | Leave a Comment »

Debut Teranyar Tuan Presiden

Ditulis oleh esito di/pada November 7, 2007

Saya membayangkan sebuah auditorium besar di Hollywood sana, mungkin ruangan yang sama dengan tempat penganugerahan Academy dan Grammy Award. Disorot oleh jutaan watt cahaya, ia berdiri dengan santun, dingin dan bersahaja menerima sebuah penghargaan. Bukan Nobel perdamaian tetapi mungkin MTV Music Award. Maka disini kita akan melakukan arak-arakan melebihi kegembiraan menyambut lebaran. Penghargaan itu akan membungkam gosip-gosip seputar perceraian, pernikahan atau tentang artis-artis yang kehamilannya mencuri start dari ijab kabul.

 

Khayalan itu datang bersamaan dengan peluncuran album rekaman presiden kita. Bahkan sebelum album ini meledak di pasar, peluncurannya saja sudah menimbulkan decak kagum. Bagaimana tidak, di tengah kekisruhan ekonomi dan politik, bencana sana sini, kejahatan yang merajalela dan kemiskinan yang tidak kunjung menemukan solusi kecuali bunuh dini, presiden masih punya cukup waktu untuk menyumbangkan suara emasnya. Mungkin inilah salah satu solusi dari permasalahan bangsa ini. Sebuah suara; alunan nadanya mungkin melenakan para tikus yang tengah menggerogoti uang negara, meninabobokan orang-orang yang kelaparan, menjadi nafas yang memburu pelaku kejaharan dan membungkam gosip seputar rumah tangga Ahmad Dhani atau iri dengki beberapa penyanyi terhadap kesuksesan Kangen Band.

 

Bila album itu dikomersilkan dan dilempar ke pasar, tidak diragukan lagi album itu akan meledak. Kesuksesan ini jelas bisa terbaca karena beberapa kondisi. Pertama, presiden kita adalah tokoh paling populer di se-antero Nusantara. Popularitas itulah kunci dari semua pintu kesuksesan dalam ranah hiburan tanah air. Kedua, karena penyanyinya adalah seorang presiden. Ini sisi nyentrik yang akan menarik minat para penikmat musik. Di tengah aroganisme pemimpin banyak negara, ia tampil dengan suara emas. Suara emas tentu tidak menyimpan dosa. Jauh mengangkangi kediktatoran presiden Bush terhadap dunia atau kediktatoran Tan Shwee di Myanmar sana. Ketiga, karena memang suara presiden sendiri enak didengar. Inilah sisi objektif yang sulit dilawan dengan pretensi. Dan terakhir, apabila ada orang yang mengatakan suara presiden jelek dan tidak mau membeli rekamannya, tentu ia bisa dipidana dengan pasal karet; penghinaan terhadap presiden. Yang terakhir ini semoga tidak terjadi, sebab UU yang memuat pasal penghinaan itu katanya telah digugurkan oleh Mahkamah Konstitusi.

 

Karir baru presiden ini mesti kita dukung dengan segenap hati. Ada harapan di balik hati sanubari. Pada tahun 2009 nanti, presiden kita ini akan menghiasi panggung hiburan tanah air dan bukan panggung Pemilu. Ia akan menertawakan elit-elit tua yang masih bertarung memperebutkan kursi legislatif dan Presiden. Bila pada tahun 2009, ia dengan legowo tidak mencalonkan diri lagi sebagai presiden maka Presiden kita ini akan mencatatkan sejarah. Ia menjadi mantan presiden pertama yang meninggalkan kenang-kenangan baik bukan kenangan buruk sebagaimana melekat pada Sukarno, Suharto, Habibie, Gusdur dan Megawati. Sebab ia meninggalkan sebuah album emas berisi kompilasi lagu.

 

 

 

 

Ditulis dalam Ota | Leave a Comment »

Masih Adakah Ruang Untuk Pahlawan

Ditulis oleh esito di/pada November 7, 2007

Bila hari ini kita harus kembali menundukkan kepala lantas dengan takzim mendengarkan sebuah ode, masihkah ada makna kenangan dalam hening cipta? Bukankah yang bergema dalam benak kita sekarang adalah nama-nama jalan yang menghubungkan tembok beton. Dan bukan lakon tentang orang-orang yang telah berbuat untuk sesuatu di masa lalu. Rutinitas tidak memberi tempat untuk kita berhenti sejenak; menatap plang jalan, patung dan langit Indonesia yang menjadi saksi pergantian waktu.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya, ucapan Sukarno itu mampu menyelinap di balik kokohnya tembok ratapan Indonesia kontemporer. Tetapi kalimat itu tidak juga menyelinap dalam relung hati manusia Indonesia. Ia hanya menemukan sosok patung bisu yang bersaksi tentang masa kini. Ia yang ditempa hujan asam dan asap hitam meratap tak berdaya melihat bangsa yang melupakan masa lalu tetapi juga gagap menggapai masa depan.

Apakah pentingnya lagi mengenang pahlawan, bila imajinasi fiktif telah mampu menghadirkan sosok dan perbuatan itu dalam ruang privasi. Patriot kita pun tampak kuyu apabila dibandingkan dengan gambaran-gambaran palsu tabung kaca televisi. Adakah gunanya cerita tentang pengorbanan ribuan orang apabila tiap hari kita mendengar berita kematian yang menyesakkan. Masih perlukah gambaran bambu runcing di sketsa ulang sementara senapan serbu beredar luas di pasar gelap Poso dan Ambon.

Sejarah tentang para patriot kemerdekaan nyaris punah bagai seonggok bukit kecil yang terus menerus digerus erosi. Rutininitas telah membunuh kenangan. Apalah arti sebuah jejak sejarah. Ia bisa dihapus atau setidaknya dimanipulasi menjadi bentuk yang berbeda. Kejadian di masa lalu, tidak berarti banyak untuk masa sekarang. Tiap generasi meretas jalannya sendiri. Hubungan kausalitas tidak memiliki makna. Bila masa lalu bisa menentukan masa depan, lantas apa gunanya kita bekerja untuk hari ini. Kita berdiri dengan gagah, menistakan ucapan Sukarno tentang pahlawan dan sejarah. Kita pun tidak juga beranjak menjadi bangsa yang besar.

Tetapi salahkah bila ada yang mengatakan bahwa sejarah bukanlah jejak, tetapi udara, memberi hidup pada setiap masa. Para martir tanah air sebenarnya tidak pernah mati. Mereka tetap hidup, bukan dalam bentuk monumen tetapi semangat yang tidak kunjung padam. Mungkin kita selama ini salah dalam menatap masa silam. Kita mengenang orang tetapi tidak mempelajari perbuatannya. Mungkin sebagian kita mengkultuskan tokoh, tetapi tidak manauladani pengorbanannya. Itu sebabnya, jagoan maya menggusur pahlawan kere kita.

Usia kepahlawanan dalam sejarah Indonesia berumur pendek. Setiap kali perjuangannya dilanjutkan yang timbul adalah pengkhianatan. Peralihan generasi yang lazim disebut dengan penamaan angkatan, tidak lebih dari perebutan kekuasaan; dari Jepang, Belanda, Sukarno dan Suharto. Maka pahlawan tersekat dalam ruang waktu yang sempit. Ia lebih baik mati muda. Kita tidak mengenangnya dalam rentang epos yang panjang tetapi dalam sebuah insiden yang membinasakan seperti; Surabaya, Bandung Lautan Api, Medan Area, Puputan dan banyak kejadian lain di tanah air pada masa revolusi fisik.

“Sekali berarti, sesudah itu mati”, mengutip sajak Diponegoro-nya Chairil Anwar, itulah sosok pahlawan kemerdekaan kita. Mereka adalah orang-orang yang berani menantang maut. Adalah gairah kemerdekaan yang menciptakan manusia dengan kualitas seperti itu. Adalah harga diri kolektif yang membuat sosok-sosok langka itu menjadi jamak pada masa itu. Tetapi setelah kemerdekaan itu penuh direngkuh, mereka yang masih hidup tidak berhasil menantang kehidupan. Generasi ’45, dalam arus kekuasaan pasca kemerdekaan bukan tidak meninggalkan noda hitam.

Bila kita harus manauladani, maka kita dipaksa untuk meneropong rentang kejadian yang pendek. Gairah “merdeka atau mati” adalah gairah universal pembebasan diri. Di India, Gandhi menyebutnya dengan istilah karega ya marega, berbuat atau mati. Di Amerika latin, lazim kita mendengar patria o muerte, tanah air atau mati. Gairah itulah yang menciptakan martir, tauladan bagi mereka yang hidup sekaligus energi untuk sebuah bangsa. Gagasan pengorbanan diri untuk pembebasan satu bangsa memang bukan suatu hal yang bisa muncul setiap saat. Ada saat-saat kemerosotan dimana mimpi masa depan menipu. Masa depan yang lantang mengatakan bahwa masa lalu tidak lebih dari belenggu yang memasung.

Yang tersisa dari masa lalu bukan sekedar “tulang diliputi debu” tetapi karakter manusia-manusia besar. Para pemimpin kontemporer seharusnya meminjam karakter tersebut. Sebab tidak adanya karakter martir itu lah yang menjadi pangkal masalah kepemimpinan nasional pada saat ini. Para pemimpin yang lantang mengatakan bahwa mereka berdiri di atas semua golongan. Tetapi pada hakikatnya mereka bukan sekedar berdiri, tetapi menginjak-injak semua golongan untuk kepentingan pribadi, golongan dan partainya.

Hawa dingin gerimis sepuluh November masih memaksa kita untuk menengok masa lalu. Pekikan merdeka, kelewang yang menerjang, peluru bundar yang bersarang dan kembang yang gugur melingkar membentuk karangan bunga. Bisakah kita sejenak melepas kepongahan masa depan kemudian mengulurkan tangan. Rendah hati kita berucap,

“Bung, mari kupinjam semangatmu dan kuteruskan apa yang tidak sempat kau angankan”


Ditulis dalam Luput | Leave a Comment »

Als Ik

Ditulis oleh esito di/pada November 7, 2007

…andai aku seorang Belanda, aku tidak akan merencanakan pesta-pesta kemerdekaan di antara rakyat yang jelas telah kita curi kemerdekaannya…

Pada tahun 1913, nukilan dari pamplet berjudul Als ik eens Nederlander was (Seandainya aku seorang Belanda) adalah sebuah kalimat yang berbahaya. Lebih dari sebuah protes, pamplet yang ditulis oleh Suwardi Suryaningrat itu adalah sebuah konfrontasi terbuka melawan pemerintah kolonial yang hendak merayakan 100 tahun pembebasan Belanda dari penjajahan Perancis. Karena pamplet itu, Suwardi dibuang ke Belanda.

Tentu bukan karena peristiwa itu, nama Suwardi Suryaningrat atau Ki Hadjar Dewantara lekat dalam memori kolektif kita. Kita lebih mengenal Suwardi sebagai bapak pendidikan. Sebuah gelar yang dulu ramai-ramai disandingkan dengan istilah proklamator, bapak koperasi atau bapak pembangunan. Tanggal lahirnya dilingkari dengan sebuah tanda. Setiap tahun kita mengingatnya sebagai hari pendidikan nasional. Rutinitas penanggalan yang membuat setiap peringatan hari nasional menjadi hambar.

Bukan kelahiran tentunya yang membuat Suwardi tampak istimewa di mata kita. Tetapi kesadaran dan perjuangan untuk perubahan kualitas kehidupan pribumi yang membuat tanggal lahirnya pantas untuk diperingati. Dan kesadaran itu tidak muncul dengan sendirinya, bagai seorang penyendiri mendapat ilham. Kesadaran itu adalah sebuah proses yang dimunculkan oleh pendidikan dan pengalaman.

Lima tahun setelah kepulangannya dari negeri Belanda, Suwardi tidak lagi tampak seperti anak muda garang yang suka berandai-andai menjadi seorang Belanda untuk menyampaikan ironi. Tampaknya ada sebuah kesadaran bahwa sindiran dengan mengandaikan diri sebagai penjajah tidak cukup untuk merubah keadaan. Suwardi, -mungkin- pada tahun 1922 itu lebih senang untuk sekedar mengatakan “Als ik”.  Seandainya aku. Dua kata itu memang terbaca sebagai kalimat tidak lengkap. Tetapi justru dari ketidaklengkapan itu, setiap orang  bisa menuliskan apa saja dibelakangnya. Suwardi menyadari bahwa pendidikan akan menjadi mata pena dimana tiap orang bisa melengkapi kalimat itu sesuai dengan keinginannya. Taman Siswa, sekolah untuk pribumi yang lepas dari subsidi pemerintah didirikan oleh Suwardi Suryaningrat pada tahun 1922.

Als ik. Dari sebuah pengantar sindiran, kalimat tidak lengkap itu telah berubah menjadi ruang kemungkinan. Dari dua mata pedang berlawanan, sebagai pembebas atau pembelenggu sebagaimana ditawarkan oleh Immanuel Kant, Suwardi memilih pendidikan sebagai sarana pembebasan. Kemerdekaan penuh dalam arti fisik sebagaimana dicita-citakan oleh Indische Partij, -wahana politik Suwardi, Cipto dan Douwes Dekker- harus didahului oleh kemerdekaan dalam memilih. Pendidikan akan membuat begitu banyak pilihan tidak lagi kasat mata. Sekali lagi, bukan Taman Siswa yang membuat Suwardi begitu hebat, tetapi konsistensi ide dan perjuangannya yang simultan dan relevan.

Dalam hikayat kebangsaan kita, pendidikan memang terbukti menjadi sarana pembebasan. Kesadaran nasional sebagian besar muncul dari kawah candradimuka pendidikan. Dari beragam institusi pendidikan kolonial, muncul para intelektual yang memperjuangkan kemerdekan Hindia Belanda. Tidak salah  kemudian jika pemerintah kolonial  melabeli mereka dengan istilah Ondankbaar Studenten, para pelajar yang tidak tahu terima kasih. Sistem pendidikan dengan belenggu kelas sosial justru  menghasilkan intelektual-intelektual yang justru ingin melepaskan belenggu itu  Waktu, lewat catatan sejarah, bersaksi pada kita yang hidup di jaman ini bahwa mereka berhasil. Setidaknya untuk cita-cita Indonesia merdeka.

Keadaan yang kita rasakan sekarang sungguh berkebalikan dengan realita masa lampau. Bila dulu problema-problema kemerdekaan dan kebebasan menjadi polemik kaum terdidik. Sekarang ini dalam suasana kemerdekaan dan kebebasan, problema-problema pendidikan bermunculan tanpa ujung penyelesaian. Bila dulu tembok angkuh eksklusivisme pendidikan coba dirubuhkan oleh produk pendidikan itu sendiri. Sekarang dalam suasana kebebasan, serpihan tembok itu kembali direkat untuk kemudian didekonstruksi ulang. Bila dulu ada kelas sosial sebagai pembeda sekarang ada kelas ekonomi yang membuat beberapa institusi pendidikan tampak sebagai utopia bagi orang yang tidak berpunya. Kelas pekerja terdidik mendominasi ibukota. Tetapi mereka tidak menawarkan perubahan apa-apa.

Pergeseran zaman memang sudah lewat. Kita telah terpaku pada satu lempeng bernama pasar. Lingua Franca-nya adalah penawaran dan permintaan. Ideologinya adalah uang. Tampaknya pendidikan tidak lagi diarahkan untuk menciptakan perubahan tetapi untuk sekedar menyemaikan benih kemapanan. Di negeri ini, hipotesa Nietzsche lebih satu abad silam terjawab sudah. Tugas pendidikan tinggi adalah mengubah manusia menjadi mesin. Caranya adalah dengan belajar bagaimana merasa bosan. Semua itu bisa dicapai dengan konsep tugas. Tiap tahun, ribuan sarjana baru dilahirkan untuk bingung. Sementara kualitas pendidikan disesuikan dengan selera pasar.

Als Ik, seandainya aku. Betapa cemburu kita pada Suwardi dan generasinya. Mereka yang dulu dikungkung oleh banyak hal itu bisa berandai-andai untuk sesuatu yang besar dan benar. Sekarang, sebuah lingkaran imajiner membatasi kita untuk berandai-andai. Sebab lewat beragam corongnya, penguasa yang berwujud pemilik modal menakut-nakuti kita untuk melakukan itu. Kemiskinan, pengangguran, dan keterkucilan adalah bentuk lain dari penjara masa lalu. Sementara problema pendidikan tidak kunjung terpecahkan. Nada sumbang nasib Oemar Bakrie-pun semakin jarang terdengar, sebab -sebagaimana kehendak pasar- Iwan Fals sang pendendangnya lebih sibuk beriklan untuk nada sambung pribadi.

Suwardi Suryaningrat, potret laki-laki itu adalah keseharian kita. Dalam uang kertas dua puluh ribu, ia berpindah dari satu tangan ke tangan lainnya. Di balik potretnya pada uang kertas, samar terlihat kalimat, Als Ik, seandainya aku. Bagi kita yang sudah terbiasa menilai semua hal dari angka dan bukan rupa. Kalimat tidak lengkap itu akan dengan mudah disempurnakan. Seandainya aku punya uang lebih dari ini!

           

          

           

 

             

Ditulis dalam Luput | 1 Komentar »